Nuskhat az-Zubair bin ‘Adī: Bagian 6

 


أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ: ‌‌«تَسَحَّرُوا؛ فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً»

Transliterasi (SKB 3 Menteri)

Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy, ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki al-Anṣāriyy, qāla: anna Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama qāla:

“Tasaḥḥarū, fa-inna fī as-saḥūri barakatan.”

Terjemahan

Syekh, imam, ulama besar yang tiada banding, pemimpin agung, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah menjaganya—memberitakan kepada kami. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdillah bin Zinah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar. Ia berkata: aku membacakan kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari. Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy, dari Anas bin Malik al-Anshari, bahwa Rasulullah bersabda: “Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur terdapat keberkahan.”

Penjelasan

Hadis ini menunjukkan bagaimana ajaran Islam tentang sahur tidak dianggap sebagai kebiasaan remeh, melainkan sebagai bagian dari sunnah yang dijaga dan ditransmisikan dengan penuh ketelitian. Sabda Nabi “tasaḥḥarū” menggunakan bentuk perintah, yang menunjukkan anjuran kuat untuk melaksanakan sahur bagi orang yang berpuasa. Perintah ini tidak berhenti pada aspek lahiriah berupa makan sebelum fajar saja, tetapi diikuti dengan penjelasan sebabnya, yaitu adanya keberkahan dalam sahur. Kata barakah dalam bahasa Arab mengandung makna kebaikan yang banyak, bertambah, dan terus-menerus, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Dengan demikian, fungsi sahur adalah penguat fisik agar mampu menahan lapar dan dahaga, juga sebagai sarana turunnya kebaikan Ilahi dalam ibadah puasa seseorang.

Keberkahan sahur dapat dipahami dalam beberapa lapisan makna yang saling melengkapi. Secara jasmani, sahur membantu menjaga stamina dan keseimbangan tubuh selama berpuasa. Secara spiritual, sahur menjadi waktu yang dekat dengan suasana keheningan malam dan menjelang fajar, saat doa lebih mudah dikabulkan dan hati lebih khusyuk. Selain itu, sahur juga membedakan puasa umat Islam dari puasa tradisi agama lain, sehingga ia berfungsi sebagai penanda identitas dan ketaatan terhadap sunnah Nabi. Dengan melaksanakan sahur, seorang Muslim tidak hanya menyiapkan diri untuk puasa secara fisik, tetapi juga menegaskan kesadarannya untuk mengikuti tuntunan Rasulullah dalam detail-detail kecil kehidupan ibadah.

Dengan demikian, hadis ini mengajarkan bahwa nilai ibadah dalam Islam tidak selalu terletak pada besarnya perbuatan, tetapi pada kesesuaiannya dengan sunnah dan niat yang menyertainya. Sahur, walaupun hanya dengan seteguk air atau sesuap makanan, menjadi sarana turunnya keberkahan karena ia dilakukan dalam rangka ketaatan dan mengikuti petunjuk Nabi. Pesan ini sekaligus mengingatkan bahwa dalam Islam, hal-hal yang tampak sederhana sering kali menyimpan makna spiritual yang dalam dan berpengaruh besar terhadap kualitas ibadah seorang hamba.

 


Post a Comment

0 Comments