Nuskhat az-Zubair bin ‘Adī: Bagian 4

 


أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ قَالَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، قَالَ: «إِنَّ‌‌ أَغْبَطَ النَّاسِ عِنْدِي لَرَجُلٌ ذُو حَظٍّ مِنْ صَلاةٍ غَامِضٌ فِي النَّاسِ ، لا يُشَارُ إِلَيْهِ بِالأَصَابِعِ، وَيَمُوتُ إِذَا مَاتَ قَلِيلَ الْمِيرَاثِ وَالْبَوَاكِي، فَذَلِكَ صِفَةُ الْمُؤْمِنِ»

Transliterasi (SKB 3 Menteri)

Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy, ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki al-Anṣāriyy, qāla qāla: anna Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama qāla:

“Inna aghbaṭa an-nāsi ‘indī la-rajulun żū ḥaẓẓin min ṣalātin ghāmiḍun fī an-nāsi, lā yusyāru ilaihi bi-al-aṣābi‘i, wa yamūtu iżā māta qalīla al-mīrāṡi wa al-bawākī, fa-żālika ṣifatu al-mu’min.”

Terjemahan

Syekh, imam, ulama besar yang tiada banding, pemimpin agung, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah memeliharanya—memberitakan kepada kami. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdillah bin Zinah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar. Ia berkata: aku membacakan kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari. Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy, dari Anas bin Malik al-Anshari, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang paling patut aku cemburui (dalam arti kebaikan) adalah seorang laki-laki yang memiliki bagian (yang besar) dalam shalat, namun ia tersembunyi di tengah manusia, tidak ditunjuk-tunjuk dengan jari, dan ketika ia meninggal dunia, ia meninggal dengan sedikit harta warisan dan sedikit orang yang menangisinya. Itulah sifat seorang mukmin.”


Penjelasan

Hadis ini menampilkan gambaran ideal tentang sosok mukmin yang sejati menurut perspektif Rasulullah. tidak mengaitkan kemuliaan seseorang dengan ketenaran, kedudukan sosial, atau limpahan harta, tetapi dengan kualitas hubungan batiniah dengan Allah, yang tercermin terutama dalam kesungguhannya dalam shalat.

Ungkapan “żū ḥaẓẓin min ṣalāt” menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki porsi besar dalam shalat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, yang mencerminkan konsistensi, kekhusyukan, dan kedekatan dengan Allah. Namun, keistimewaan ini disertai dengan sifat “ghāmiḍ fī an-nās”, yakni tidak menonjol, tidak mencari sorotan, dan tidak dikenal luas. Kalimat “lā yusyāru ilaihi bi-al-aṣābi‘” menunjukkan bahwa ia bukan figur publik yang dielu-elukan atau dijadikan simbol kebesaran duniawi, melainkan seseorang yang amalnya tersembunyi dari pandangan manusia tetapi terang di sisi Allah.

Gambaran kematian orang tersebut yang hanya meninggalkan sedikit warisan dan sedikit orang yang menangisi juga sarat makna. Ini menunjukkan bahwa nilai hidupnya tidak diukur dari akumulasi materi atau jaringan sosial yang luas. Kesederhanaan akhir hidupnya justru mencerminkan keterlepasan dari dunia dan keterikatan yang kuat kepada akhirat. Dengan redaksi penutup “fa-żālika ṣifatu al-mu’min”, Rasulullah mengangkat profil ini sebagai definisi normatif seorang mukmin sejati, yakni pribadi yang tenang, tidak silau popularitas, kaya secara spiritual, dan ikhlas dalam pengabdian.

Secara keseluruhan, hadis ini mengajarkan pembalikan nilai yang mendasar: kemuliaan sejati tidak selalu tampak, dan orang-orang terbaik di sisi Allah sering kali adalah mereka yang tidak dikenal di bumi. Pesan ini mengajak pembaca untuk menata ulang orientasi hidup, dari pencarian pengakuan manusia menuju pencarian rida Allah, serta menanamkan keyakinan bahwa amal yang tersembunyi dan keikhlasan yang dalam memiliki kedudukan yang jauh lebih tinggi daripada ketenaran dan kemegahan yang bersifat sementara.

 


Post a Comment

0 Comments