أَخْبَرَنَا
الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ
أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ
اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ
بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ
هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي
الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا
أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ
بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو
مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا
بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه
وسلم: «مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ»
Transliterasi
(SKB 3 Menteri)
Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu
aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin
al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu
bin ‘Aliyyi bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin
al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin
Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin
al-Mutawakkili ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi
bin Muḥammadi bin ‘Ufayri bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy,
ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā
Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki
al-Anṣāriyy, qāla qāla: qāla Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama: «Man
taraka al-jumu‘ata tahāwunan bihā ṭaba‘a Allāhu ‘alā qalbih».
Terjemahan
Syekh, imam, alim, satu-satunya, pemimpin besar,
Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah menjaga
keberadaannya—memberitakan kepada kami, ia berkata: telah memberitakan kepada
kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’; telah
memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin
‘Abdullah bin Zinah; telah memberitakan kepada kami Abu al-Fatḥ Hilal bin
Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar; ia berkata: aku membacakan (riwayat ini) kepada
Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah; ia berkata: telah memberitakan
kepada kami Abu ‘Abdullah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin
Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari; telah meriwayatkan kepada kami
Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani; telah meriwayatkan
kepada kami Bisyr bin al-Husain; telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin
‘Adiyy; dari Anas bin Malik al-Anshari. Ia berkata, ia berkata: Rasulullah bersabda,
“Barang siapa meninggalkan shalat Jumat karena meremehkannya, maka Allah akan
menutup hatinya.”
Penjelasan
Hadis mengandung peringatan terhadap sikap
meremehkan shalat Jumat. Kata tahāwunan bihā adalah suatu sikap lalai,
meremehkan, dan tidak menganggap penting kewajiban tersebut. Konsekuensi yang
disebutkan, yaitu “Allah menutup hatinya”, menggambarkan kondisi seseorang yang
kehilangan kepekaan terhadap kebenaran dan nasihat agama. Penutupan hati di
sini adalah akibat pengulangan sikap meremehkan syiar Islam, bukan sebagai
vonis kekafiran secara langsung, tetapi sebagai peringatan keras agar seorang
Muslim tidak terus-menerus mengabaikan kewajiban kolektif umat.

0 Comments
Silahkan meninggalkan saran dan masukan terkait blog ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.