Nuskhat az-Zubair bin ‘Adī: Bagian 15



أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، قَالَ:   سُئِلَ أَنَسٌ عَنِ الصَّوْمِ فِي السَّفَرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَمْ تَرْكُهُ؟ قَالَ: «أَنْ أَصُومَ أَحَبُّ إِلَيَّ» 


Transliterasi (SKB 3 Menteri)

Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-Dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy, ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, qāla: su’ila Anasun ‘ani aṣ-ṣawmi fī as-safari fī syahri Ramaḍāna, aḥabbu ilaika am tarkuhu? Qāla: «An aṣūma aḥabbu ilayya.»

Terjemahan

Syekh imam yang alim, ulama yang tiada bandingannya, pemimpin besar, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah memanjangkan usianya—memberitakan kepada kami. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdullah bin Zinah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar. Ia berkata: aku membacakan kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdullah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari. Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy. Ia berkata:

Anas bin Malik pernah ditanya mengenai berpuasa ketika melakukan perjalanan pada bulan Ramadan, “Menurutmu, manakah yang lebih engkau sukai, berpuasa atau tidak berpuasa?” Anas menjawab, “Berpuasa lebih aku sukai.”

Penjelasan

Riwayat ini merupakan sebuah atsar dari sahabat Anas bin Malik yang memuat pandangan pribadinya mengenai hukum dan praktik berpuasa ketika melakukan perjalanan (safar) pada bulan Ramadan. Berbeda dengan hadis marfū‘ yang secara langsung mengutip sabda Nabi Muhammad ﷺ, riwayat ini menyampaikan jawaban seorang sahabat terhadap pertanyaan fikih yang diajukan kepadanya. Kedudukan atsar sahabat seperti ini sangat penting dalam kajian hadis dan fikih karena para sahabat merupakan generasi yang hidup bersama Rasulullah ﷺ, menyaksikan praktik beliau secara langsung, serta memahami konteks turunnya ayat-ayat Al-Qur'an dan penerapan syariat. Oleh karena itu, pendapat mereka sering dijadikan salah satu landasan dalam memahami hukum Islam, khususnya ketika berkaitan dengan masalah yang memang memiliki ruang ijtihad.

Pertanyaan yang diajukan kepada Anas menyentuh salah satu persoalan klasik dalam fikih puasa, yaitu apakah lebih utama tetap berpuasa ketika safar atau memanfaatkan rukhsah (keringanan) untuk berbuka. Jawaban Anas, “Berpuasa lebih aku sukai,” menunjukkan preferensi pribadinya, bukan penetapan hukum yang mengikat semua orang. Ungkapan aḥabbu ilayya berarti “lebih aku sukai” atau “lebih aku pilih”, sehingga menunjukkan adanya pilihan yang dibenarkan oleh syariat. Hal ini selaras dengan berbagai hadis sahih yang menerangkan bahwa Rasulullah ﷺ terkadang berpuasa ketika bepergian dan pada kesempatan lain berbuka. Dengan demikian, syariat memberikan fleksibilitas sesuai dengan kondisi fisik, tingkat kesulitan perjalanan, dan kemampuan masing-masing individu.

Riwayat ini juga mencerminkan pendekatan moderat dalam fikih Islam. Islam tidak memandang rukhsah sebagai bentuk kelemahan atau pengurangan nilai ibadah, melainkan sebagai rahmat yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Dalam beberapa keadaan, Nabi bahkan menganjurkan berbuka apabila puasa menimbulkan kesulitan yang berat, sebagaimana dalam hadis tentang perjalanan menuju penaklukan Makkah. Sebaliknya, apabila perjalanan tidak menimbulkan kesulitan berarti, seseorang tetap diperbolehkan berpuasa, bahkan sebagian sahabat seperti Anas lebih memilih untuk melaksanakannya. Oleh sebab itu, jawaban Anas harus dipahami dalam konteks kemampuan pribadi dan kebiasaan beliau, bukan sebagai penolakan terhadap rukhsah yang telah diberikan oleh syariat.

Dari perspektif metodologi hadis, atsar ini juga memperlihatkan bagaimana para tabi‘in menjadikan sahabat sebagai rujukan dalam persoalan-persoalan hukum praktis. Az-Zubair bin ‘Adiyy sebagai seorang tabi‘i meriwayatkan jawaban Anas, sehingga pendapat tersebut menjadi bagian dari khazanah fikih generasi awal Islam. Riwayat ini memperkaya pemahaman bahwa praktik keagamaan pada masa sahabat tidak selalu bersifat seragam, melainkan memberi ruang bagi pilihan yang sama-sama berlandaskan sunnah. Dengan demikian, teks ini mengajarkan bahwa syariat Islam dibangun di atas prinsip kemudahan (taysīr) dan keseimbangan, di mana seseorang dapat memilih antara tetap berpuasa atau berbuka saat safar sesuai dengan kondisi yang dihadapinya, tanpa menganggap salah satu pilihan tersebut sebagai satu-satunya yang benar bagi semua orang.

Post a Comment

0 Comments