Nuskhat az-Zubair bin ‘Adī: Bagian 12

 


أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: "‌‌ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَكْتَالَ لَهُ بِالْقَفِيزِ الأَوْفَى ، فَلْيَقُلْ: {فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ {17} وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ {18} يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ {19} } [الروم: 17-19] .

{سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ {180} وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ {181} وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ {182} } [الصافات: 180-182] "

 

 

Transliterasi (SKB 3 Menteri)

Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy, ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki al-Anṣāriyy, qāla qāla Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama:

“Man aḥabba an yaktāla lahu bi-al-qafīzi al-awfā, falyqul: {Fa-subḥāna Allāhi ḥīna tumsūna wa ḥīna tuṣbiḥūna (17) wa lahu al-ḥamdu fī as-samāwāti wa al-arḍi wa ‘asyiyyan wa ḥīna tuẓhirūna (18) yukhriju al-ḥayya mina al-mayyiti wa yukhriju al-mayyita mina al-ḥayyi wa yuḥyī al-arḍa ba‘da mawtihā wa każālika tukhrajūna (19)} [ar-Rūm: 17–19]. {Subḥāna rabbika rabbi al-‘izzati ‘ammā yaṣifūna (180) wa salāmun ‘alā al-mursalīna (181) wa al-ḥamdu lillāhi rabbi al-‘ālamīna (182)} [aṣ-Ṣāffāt: 180–182].”

Terjemahan

Syekh, imam, ulama besar yang tiada banding, pemimpin agung, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah menjaga keberadaannya—memberitakan kepada kami. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdillah bin Zinah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar. Ia berkata: aku membacakan kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari. Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy, dari Anas bin Malik al-Anshari, ia berkata: Rasulullah bersabda:

“Barang siapa ingin agar takarannya dipenuhi dengan takaran yang paling sempurna (paling penuh), maka hendaklah ia membaca: ‘Maka Mahasuci Allah ketika kalian memasuki waktu petang dan ketika kalian memasuki waktu pagi. Dan bagi-Nya segala puji di langit dan di bumi, dan pada waktu sore, dan ketika kalian memasuki waktu zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan menghidupkan bumi setelah matinya. Dan demikianlah kalian akan dikeluarkan (dibangkitkan).’ (QS. ar-Rum: 17–19). Dan membaca pula: ‘Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang mempunyai kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.’ (QS. aṣ-Ṣāffāt: 180–182).”

Penjelasan

Hadis ini menunjukkan kandungan amaliah yang berpusat pada zikir dan tasbih yang bersumber langsung dari ayat-ayat Al-Qur’an. Dari sisi bentuk, kita melihat bagaimana teks dibuka dengan rangkaian “akhbaranā… anbā… ṡanā…” yang menandakan proses penerimaan hadis melalui majelis ilmu, pembacaan di hadapan guru, serta periwayatan yang tersambung sampai kepada sahabat Anas bin Malik. Pola ini menguatkan bahwa pesan yang dibawa bukan sekadar nasihat umum, tetapi bagian dari warisan keagamaan yang dijaga dengan mekanisme ilmiah yang mapan.

Bagian inti hadis memakai ungkapan yang menarik, yaitu “man aḥabba an yaktāla lahu bi-al-qafīzi al-awfā”, yang secara harfiah menggambarkan seseorang yang ingin “ditakar” dengan takaran paling penuh dan paling sempurna. Kata qafīz adalah istilah takaran dalam tradisi Arab, sehingga hadis ini menggunakan bahasa ekonomi dan timbangan untuk menyampaikan makna spiritual: siapa yang ingin memperoleh “porsi pahala” atau “bagian kebaikan” secara penuh, hendaknya memperbanyak zikir tertentu. Ini adalah gaya bahasa yang sangat kuat, karena mengaitkan realitas sehari-hari—timbangan, takaran, ukuran—dengan realitas akhirat yang lebih menentukan, yaitu ganjaran amal. Dengan kata lain, hadis ini mengajak pembaca memahami bahwa amal dan pahala bukan sesuatu yang abstrak semata, tetapi “bernilai” dan “terukur” dalam keadilan Allah, meskipun hakikat pengukuran itu tentu bukan seperti ukuran manusia.

Zikir yang dianjurkan dalam hadis ini bukanlah rangkaian kata yang dibuat-buat, melainkan langsung berupa kutipan ayat Al-Qur’an dari Surah ar-Rum ayat 17–19 dan Surah aṣ-Ṣāffāt ayat 180–182. Ini penting, karena menunjukkan bahwa zikir terbaik adalah yang berakar pada wahyu. Ayat ar-Rum 17–19 menegaskan ritme ibadah harian dengan menyebut waktu petang dan pagi, lalu memperluasnya dengan waktu sore dan zuhur, seakan-akan mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin seharusnya dibingkai oleh kesadaran ilahiah dari awal hari sampai akhir hari. Tasbih dan hamdalah dalam ayat itu juga menanamkan keyakinan bahwa segala puji milik Allah di seluruh alam, bukan hanya dalam ruang ibadah formal, melainkan di seluruh langit dan bumi, sehingga seorang hamba diajak memandang dunia sebagai ruang penghambaan yang menyeluruh.

Lebih jauh, ayat tersebut menyebut kekuasaan Allah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mati dari yang hidup, serta menghidupkan bumi setelah mati. Ini bukan sekadar informasi teologis, tetapi latihan batin untuk menyadari bahwa Allah mampu membalik keadaan, mengubah kebuntuan menjadi kelapangan, dan menghidupkan kembali sesuatu yang tampak telah berakhir. Karena itu, zikir ini bukan hanya “bacaan pahala”, melainkan juga “penguat iman” ketika manusia menghadapi kerapuhan hidup. Puncaknya, ayat itu menutup dengan penegasan tentang kebangkitan: “dan demikianlah kalian akan dikeluarkan”, yang menghubungkan zikir harian dengan kesadaran akhirat, sehingga ibadah bukan rutinitas kosong, tetapi persiapan menuju perjumpaan dengan Allah.

Sementara itu, ayat penutup dari Surah aṣ-Ṣāffāt (180–182) adalah semacam penegasan akidah dan adab dalam berbicara tentang Allah. “Subḥāna rabbika rabbi al-‘izzati ‘ammā yaṣifūna” menyucikan Allah dari segala sifat yang disematkan oleh orang-orang yang keliru, lalu diikuti “wa salāmun ‘alā al-mursalīn” yang memberi salam penghormatan kepada para rasul sebagai pembawa kebenaran, dan ditutup dengan “wa al-ḥamdu lillāhi rabbi al-‘ālamīn” yang menjadi simpulan paling agung: semua pujian kembali kepada Allah Tuhan semesta alam. Susunan ini seolah mengajarkan kerangka iman yang lengkap: tanzih (menyucikan Allah), ta’zhim terhadap utusan-utusan-Nya, dan hamd (pujian total) kepada Rabb seluruh makhluk.

Dengan demikian, pesan hadis ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk “memenuhi timbangan amal” dengan memperbanyak tasbih dan hamd yang terikat pada waktu-waktu penting dalam hari, sekaligus menguatkan kesadaran tentang kekuasaan Allah dalam menghidupkan dan mematikan, serta kepastian kebangkitan. Keutamaan yang dijanjikan dengan metafora “takaran paling penuh” menanamkan optimisme spiritual bahwa zikir yang benar dan konsisten bukan hanya menambah pahala, tetapi juga membentuk cara pandang hidup: hari-hari seorang mukmin menjadi lebih terarah, lebih tenang, dan lebih bermakna karena selalu dikaitkan dengan Allah, dari pagi hingga petang, dari dunia hingga akhirat.

 


Post a Comment

0 Comments