أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ
الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ
زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو
مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو
عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ
الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ
الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ
بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ
أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ
بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا
الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا انْفَتَلَ مِنْ صَلاتِهِ مَسَحَ
وَجْهَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ، ثُمَّ قَالَ: «بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لا إِلَهَ
إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ»
Transliterasi
(SKB 3 Menteri)
Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu
aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin
al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu
bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin
al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin
Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin
al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi
bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy,
ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā
Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki
al-Anṣāriyy, qāla: kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama iżā infatala
min ṣalātihī masaḥa wajhahu bi-yadihī al-yumnā, ṡumma qāla:
“Bismillāhi allażī lā ilāha illā huwa ar-Raḥmānu
ar-Raḥīmu, Allāhumma ażhib ‘annī al-hamma wa al-ḥazana.”
Terjemahan
Syekh, imam, ulama besar yang tiada banding,
pemimpin agung, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid
al-Kindi—semoga Allah memanjangkan keberadaannya—memberitakan kepada kami. Ia
berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali
bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali
al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdillah bin Zinah. Ia berkata: telah
memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar.
Ia berkata: aku membacakan kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil
‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Husain
bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari.
Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah
al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah
meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy, dari Anas bin Malik al-Anshari,
ia berkata: Rasulullah apabila selesai (berpaling) dari shalatnya, beliau
mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, kemudian beliau mengucapkan: “Dengan
nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Ya Allah, hilangkanlah dariku kegelisahan dan kesedihan.”
Penjelasan
Hadis ini menggambarkan bahwa Rasulullah ketika
selesai shalat, beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanan, lalu berdoa.
Praktik mengusap wajah ini dalam riwayat tersebut tampak sebagai gerakan
penutup yang mengiringi transisi dari keadaan munajat di dalam shalat menuju
kehidupan normal setelah salam. Dalam pengalaman spiritual, shalat adalah momen
puncak keterhubungan seorang hamba dengan Allah, dan gerakan serta doa
setelahnya bisa dipahami sebagai bentuk membawa “bekas” ketenangan shalat ke
dalam realitas sehari-hari. Tangan kanan disebut secara khusus karena dalam
adab Islam, kanan identik dengan kemuliaan, kebersihan, dan tindakan yang baik,
sehingga penggunaan tangan kanan mengandung nuansa penghormatan dan kesantunan
dalam ibadah.
Doa yang dibaca Nabi dimulai dengan basmalah dan
penguatan tauhid: “Bismillāhi allażī lā ilāha illā huwa”, yang menjelaskan
bahwa sumber pertolongan hanya Allah semata. Penyebutan dua nama agung
“ar-Raḥmān ar-Raḥīm” mengingatkan bahwa rahmat Allah bersifat luas dan
terus-menerus, sehingga permohonan apa pun—termasuk permohonan yang bersifat
psikologis—berakar pada keyakinan bahwa Allah bukan hanya berkuasa, tetapi juga
penuh kasih sayang. Setelah itu Nabi memohon secara sangat manusiawi:
“Allāhumma ażhib ‘annī al-hamma wa al-ḥazana”, yakni agar Allah menghilangkan
“hamm” (kegelisahan, kecemasan yang menekan pikiran tentang hal yang akan
datang) dan “ḥuzn” (kesedihan, luka batin karena sesuatu yang telah terjadi).
Dua kata ini mencakup spektrum besar kondisi mental manusia: ketakutan akan
masa depan dan penyesalan atau kepedihan masa lalu. Karena itu doa ini tampak
singkat, tetapi sesungguhnya menyentuh inti pengalaman batin hampir semua orang.
Keindahan riwayat ini juga terletak pada pesan
tersirat bahwa Islam tidak memisahkan ibadah ritual dari kesehatan jiwa. Shalat
bukan hanya kewajiban formal, tetapi juga sarana penyembuhan batin dan penataan
hati. Dengan menempatkan doa penghilang gelisah dan sedih tepat setelah shalat,
riwayat ini memberi kesan bahwa salah satu buah shalat adalah lahirnya
ketenangan dan daya tahan mental, namun ketenangan itu tetap perlu dimohonkan
kepada Allah karena hati manusia bisa berbolak-balik. Maka, doa ini menjadi
semacam perantara agar seseorang menyelesaikan shalat sebagai rutinitas
sekaligus keluar dari shalat dengan membawa harapan, keteguhan, dan rasa aman
dalam naungan rahmat Allah.

0 Comments
Silahkan meninggalkan saran dan masukan terkait blog ini. Semoga bermanfaat. Terima kasih.