Nuskhat az-Zubair bin ‘Adī: Bagian 11


 

أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم‌‌ إِذَا انْفَتَلَ مِنْ صَلاتِهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ، ثُمَّ قَالَ: «بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ اللَّهُمَّ أَذْهِبْ عَنِّي الْهَمَّ وَالْحَزَنَ»

Transliterasi (SKB 3 Menteri)

Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy, ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki al-Anṣāriyy, qāla: kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama iżā infatala min ṣalātihī masaḥa wajhahu bi-yadihī al-yumnā, ṡumma qāla:

“Bismillāhi allażī lā ilāha illā huwa ar-Raḥmānu ar-Raḥīmu, Allāhumma ażhib ‘annī al-hamma wa al-ḥazana.”

Terjemahan

Syekh, imam, ulama besar yang tiada banding, pemimpin agung, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah memanjangkan keberadaannya—memberitakan kepada kami. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdillah bin Zinah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar. Ia berkata: aku membacakan kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari. Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy, dari Anas bin Malik al-Anshari, ia berkata: Rasulullah apabila selesai (berpaling) dari shalatnya, beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, kemudian beliau mengucapkan: “Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, hilangkanlah dariku kegelisahan dan kesedihan.”

Penjelasan

Hadis ini menggambarkan bahwa Rasulullah ketika selesai shalat, beliau mengusap wajahnya dengan tangan kanan, lalu berdoa. Praktik mengusap wajah ini dalam riwayat tersebut tampak sebagai gerakan penutup yang mengiringi transisi dari keadaan munajat di dalam shalat menuju kehidupan normal setelah salam. Dalam pengalaman spiritual, shalat adalah momen puncak keterhubungan seorang hamba dengan Allah, dan gerakan serta doa setelahnya bisa dipahami sebagai bentuk membawa “bekas” ketenangan shalat ke dalam realitas sehari-hari. Tangan kanan disebut secara khusus karena dalam adab Islam, kanan identik dengan kemuliaan, kebersihan, dan tindakan yang baik, sehingga penggunaan tangan kanan mengandung nuansa penghormatan dan kesantunan dalam ibadah.

Doa yang dibaca Nabi dimulai dengan basmalah dan penguatan tauhid: “Bismillāhi allażī lā ilāha illā huwa”, yang menjelaskan bahwa sumber pertolongan hanya Allah semata. Penyebutan dua nama agung “ar-Raḥmān ar-Raḥīm” mengingatkan bahwa rahmat Allah bersifat luas dan terus-menerus, sehingga permohonan apa pun—termasuk permohonan yang bersifat psikologis—berakar pada keyakinan bahwa Allah bukan hanya berkuasa, tetapi juga penuh kasih sayang. Setelah itu Nabi memohon secara sangat manusiawi: “Allāhumma ażhib ‘annī al-hamma wa al-ḥazana”, yakni agar Allah menghilangkan “hamm” (kegelisahan, kecemasan yang menekan pikiran tentang hal yang akan datang) dan “ḥuzn” (kesedihan, luka batin karena sesuatu yang telah terjadi). Dua kata ini mencakup spektrum besar kondisi mental manusia: ketakutan akan masa depan dan penyesalan atau kepedihan masa lalu. Karena itu doa ini tampak singkat, tetapi sesungguhnya menyentuh inti pengalaman batin hampir semua orang.

Keindahan riwayat ini juga terletak pada pesan tersirat bahwa Islam tidak memisahkan ibadah ritual dari kesehatan jiwa. Shalat bukan hanya kewajiban formal, tetapi juga sarana penyembuhan batin dan penataan hati. Dengan menempatkan doa penghilang gelisah dan sedih tepat setelah shalat, riwayat ini memberi kesan bahwa salah satu buah shalat adalah lahirnya ketenangan dan daya tahan mental, namun ketenangan itu tetap perlu dimohonkan kepada Allah karena hati manusia bisa berbolak-balik. Maka, doa ini menjadi semacam perantara agar seseorang menyelesaikan shalat sebagai rutinitas sekaligus keluar dari shalat dengan membawa harapan, keteguhan, dan rasa aman dalam naungan rahmat Allah.

 


Post a Comment

0 Comments