Nuskhat az-Zubair bin ‘Adī: Bagian 9

 


أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ، كَانَ‌‌ إِذَا رَأَى فِي أَهْلِهِ مُنْكَرًا ، قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ» .

وَإِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ ، قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الْمُنْعِمِ الْمُتَفَضِّلِ، اللَّهُمَّ بِنِعْمَتِكَ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ»

Transliterasi (SKB 3 Menteri)

Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy, ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki al-Anṣāriyy, qāla: anna Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama, kāna idżā ra’ā fī ahlihi munkaran, qāla: “Al-ḥamdu lillāhi ‘alā kulli ḥālin”. Wa idżā ra’ā mā yuḥibbu, qāla: “Al-ḥamdu lillāhi al-mun‘imi al-mutafaḍḍili, Allāhumma bini‘matika tatimmu aṣ-ṣāliḥāt”.

Terjemahan

Syekh, imam, ulama besar yang tiada banding, pemimpin agung, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah memanjangkan keberadaannya—memberitakan kepada kami. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdillah bin Zinah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar. Ia berkata: aku membacakan kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari. Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy, dari Anas bin Malik al-Anshari, ia berkata bahwa Rasulullah apabila melihat pada keluarganya suatu kemungkaran, beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan.” Dan apabila beliau melihat sesuatu yang beliau sukai, beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Allah Yang Maha Memberi nikmat dan Maha Melimpahkan karunia. Ya Allah, dengan nikmat-Mu sempurnalah segala kebaikan.”

Penjelasan

Hadis ini menggambarkan salah satu adab batin Nabi Muhammad yang sangat halus dan mendidik, yaitu bagaimana beliau menata respons hati dan lisan ketika menghadapi dua situasi yang bertolak belakang di dalam kehidupan rumah tangga: saat melihat sesuatu yang tidak baik (munkar) dan saat menyaksikan sesuatu yang menyenangkan. Menariknya, hadis ini tidak langsung berbicara tentang tindakan korektif atau hukuman, melainkan dimulai dari dasar spiritual yang paling mendasar, yakni pujian kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa dalam pandangan kenabian, pembinaan keluarga dan perbaikan keadaan tidak boleh dilepaskan dari tauhid, pengakuan terhadap rububiyyah Allah, dan kesadaran bahwa seluruh keadaan manusia berada dalam takdir dan pengaturan-Nya.

Ucapan “al-ḥamdu lillāhi ‘alā kulli ḥālin” ketika melihat kemungkaran mengandung pelajaran besar bahwa seorang mukmin tidak hanya bersyukur ketika lapang, tetapi juga tetap menjaga adab kepada Allah ketika menghadapi hal yang menyakitkan atau mengecewakan. Kalimat ini bukan berarti ridha terhadap kemaksiatan itu sendiri, karena kemungkaran tetap wajib diingkari sesuai kemampuan, tetapi ia menunjukkan keteguhan hati Nabi yang tidak terjerumus pada kemarahan liar, putus asa, atau ucapan buruk. Dengan tetap memulai dari hamdalah, Nabi mengajarkan bahwa musibah, ujian, dan situasi tidak ideal pun tetap berada dalam cakupan hikmah Allah, dan bahwa sikap pertama seorang hamba adalah kembali kepada Allah dengan pujian dan penghambaan, bukan dengan keluhan yang merusak iman.

Sementara itu, ketika melihat sesuatu yang beliau sukai, Nabi mengucapkan “al-ḥamdu lillāhi al-mun‘imi al-mutafaḍḍili”, yaitu pujian yang menegaskan dua sisi pemberian Allah: Allah memberi nikmat secara nyata, dan Allah melimpahkan karunia melebihi apa yang pantas diminta atau diusahakan hamba. Ini menanamkan kesadaran bahwa kegembiraan dalam keluarga, kebaikan anak, keharmonisan rumah, rezeki, kesehatan, atau kabar baik apa pun, bukan sekadar hasil kepandaian manusia, melainkan buah dari kemurahan Allah. Dengan demikian, rasa senang tidak berubah menjadi kesombongan, dan keberhasilan tidak berubah menjadi ketergantungan kepada sebab semata, karena semuanya dikembalikan kepada Sang Pemberi nikmat.

Doa penutup “Allāhumma bini‘matika tatimmu aṣ-ṣāliḥāt” sangat dalam maknanya, karena ia menyatakan bahwa kebaikan yang tampak di awal belum tentu sempurna di akhir, dan kesalehan membutuhkan penjagaan serta penyempurnaan dari Allah. Banyak hal baik yang bisa dimulai dengan baik tetapi gagal di tengah jalan karena lalai, riya, ujub, atau tergoda oleh hal-hal yang merusak, sehingga doa ini menjadi bentuk tawakkal dan permohonan agar nikmat Allah bukan hanya hadir, tetapi juga menuntun kepada penyelesaian yang baik. Dalam konteks keluarga, doa ini seolah mengajarkan bahwa rumah tangga yang baik tidak cukup dengan momen-momen menyenangkan, tetapi perlu terus dipelihara agar kebaikan itu tetap istiqamah dan berbuah menjadi amal saleh yang utuh.

Dengan demikian, hadis ini sebenarnya membentuk pola spiritual yang sangat seimbang: ketika menghadapi keburukan, Nabi meneguhkan hati dengan hamdalah agar tetap kuat, sabar, dan jernih dalam memperbaiki keadaan; sedangkan ketika menghadapi kebaikan, beliau menegaskan syukur dan mengembalikan semua kepada Allah agar nikmat tidak menjadi fitnah. Pola ini mendidik seorang Muslim untuk memiliki “kompas batin” yang stabil: tidak runtuh saat diuji dan tidak lupa diri saat diberi, serta selalu mengaitkan dinamika kehidupan keluarga dengan hubungan yang benar kepada Allah.

 


Post a Comment

0 Comments