Nuskhat az-Zubair bin ‘Adī: Bagian 10

 


أخْبَرَنَا الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْعَالِمُ الأَوْحَدُ الصَّدْرُ الْكَبِيرُ تَاجُ الدِّينِ أَبُو الْيَمَنِ زَيْدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ زَيْدٍ الْكِنْدِيُّ ، أَبْقَاهُ اللَّهُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَحْمَدَ الْمُقْرِئُ ، أنبا أَبُو عَلِيٍّ الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِينَةَ ، أَنَبا أَبُو الْفَتْحِ هِلالُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ الْحَفَّارُ ، قَالَ: قَرَأْتُ عَلَى أَبِي الْفَضْلِ عِيسَى بْنِ مُوسَى بْنِ الْمُتَوَكِّلِ عَلَى اللَّهِ ، قَالَ: أنبا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُفَيْرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ الْأَنْصَارِيُّ ، ثنا أَبُو مُحَمَّدٍ الْحَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الأَصْبَهَانِيُّ ، ثنا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، ثنا الزُّبَيْرُ بْنُ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ، قَالَ أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ‌‌ إِذَا قُدِّمَ إِلَيْهِ الطَّعَامُ ، قَالَ: «سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ مَا أَكْثَرَ مَا تُعْطِينَا ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ مَا أَعْظَمَ مَا تُعَافِينَا ، سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ مَا أَحْسَنَ مَا تُبْلِينَا ، فَأَتْمِمْ عَلَيْنَا نِعْمَتَكَ ، وَوَسِّعْ عَلَيْنَا وَعَلَى فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِينَ» .

قَالَ: وَكَانَ إِذَا تَنَاوَلَ الطَّعَامَ يَقُولُ: «بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ» .

وَكَانَ يَحْمَدُ اللَّهَ بَيْنَ كُلِّ لُقْمَتَيْنِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَذْكُرُ اللَّهَ بَيْنَ كُلِّ خُطْوَتَيْنِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَفَعَ يَدَهُ مِنَ الطَّعَامِ يَقُولُ: «أَطْعَمْتَ رَبِّي وَأَشْبَعْتَ ، لَكَ الْحَمْدُ فَهَنِّهِ ، أَكْثَرْتَ رَبِّي مِنَ الطَّيِّبِ ، لَكَ الْحَمْدُ فَزِدْ»

Transliterasi (SKB 3 Menteri)

Akhbaranā asy-syaikhu al-imāmu al-‘ālimu al-awḥadu aṣ-ṣadru al-kabīru Tāju ad-dīni Abū al-Yamani Zaydu bin al-Ḥasani bin Zaydin al-Kindiyy, abqāhu Allāh, qāla: akhbaranā asy-syaikhu Abū Muḥammadin ‘Abdullāhu bin ‘Aliyy bin Aḥmada al-Muqri’, anbā Abū ‘Aliyy al-Ḥasanu bin Muḥammadi bin al-Qāsimi bin ‘Abdillāhi bin Zīnah, anbā Abū al-Fatḥi Hilālu bin Muḥammadi bin Ja‘farin al-Ḥaffār, qāla: qara’tu ‘alā Abī al-Faḍli ‘Īsā bin Mūsā bin al-Mutawakkil ‘alā Allāh, qāla: anbā Abū ‘Abdillāhi al-Ḥusainu bin Muḥammadi bin Muḥammadi bin ‘Ufayr bin Muḥammadi bin Sahli bin Abī Ḥaṡmata al-Anṣāriyy, ṡanā Abū Muḥammadin al-Ḥajjāju bin Yūsufa bin Qutaybata al-Aṣbahāniyy, ṡanā Bisyru bin al-Ḥusain, ṡanā az-Zubayru bin ‘Adiyy, ‘an Anasi bin Māliki al-Anṣāriyy, qāla: anna Rasūlallāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama kāna idzā quddima ilaihi aṭ-ṭa‘āmu qāla:

“Subḥānaka wa biḥamdika mā akṡara mā tu‘ṭīnānā, subḥānaka wa biḥamdika mā a‘ẓama mā tu‘āfīnānā, subḥānaka wa biḥamdika mā aḥsana mā tublīnānā, fa-atmim ‘alainā ni‘mataka, wa wassi‘ ‘alainā wa ‘alā fuqarā’i al-muslimīn.”

Qāla: wa kāna idzā tanāwala aṭ-ṭa‘āma yaqūlu: “Bismillāhi fī awwalihi wa ākhirihi.” Wa kāna yaḥmadu Allāha baina kulli luqmatain, wa kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yażkuru Allāha baina kulli khuṭwatain, wa kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama idzā rafa‘a yadahu mina aṭ-ṭa‘āmi yaqūlu:

“Aṭ‘amta rabbī wa asyba‘ta, laka al-ḥamdu fa-hannih, akṡarta rabbī mina aṭ-ṭayyibi, laka al-ḥamdu fa-zid.”

Terjemahan

Syekh, imam, ulama besar yang tiada banding, pemimpin agung, Tajuddin Abu al-Yaman Zaid bin al-Hasan bin Zaid al-Kindi—semoga Allah memanjangkan keberadaannya—memberitakan kepada kami. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Syekh Abu Muhammad ‘Abdullah bin ‘Ali bin Ahmad al-Muqri’. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Ali al-Hasan bin Muhammad bin al-Qasim bin ‘Abdillah bin Zinah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu al-Fath Hilal bin Muhammad bin Ja‘far al-Ḥaffar. Ia berkata: aku membacakan (riwayat ini) kepada Abu al-Faḍl ‘Isa bin Musa bin al-Mutawakkil ‘ala Allah. Ia berkata: telah memberitakan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Husain bin Muhammad bin Muhammad bin ‘Ufayr bin Muhammad bin Sahl bin Abu Hathmah al-Anshari. Telah meriwayatkan kepada kami Abu Muhammad al-Hajjaj bin Yusuf bin Qutaibah al-Ashbahani. Telah meriwayatkan kepada kami Bisyr bin al-Husain. Telah meriwayatkan kepada kami az-Zubair bin ‘Adiyy, dari Anas bin Malik al-Anshari, ia berkata bahwa Rasulullah apabila makanan disuguhkan kepada beliau, beliau mengucapkan:

“Mahasuci Engkau dan dengan pujian kepada-Mu, betapa banyak yang Engkau berikan kepada kami. Mahasuci Engkau dan dengan pujian kepada-Mu, betapa agung yang Engkau anugerahkan berupa kesehatan kepada kami. Mahasuci Engkau dan dengan pujian kepada-Mu, betapa indah ujian dan keadaan yang Engkau berikan kepada kami. Maka sempurnakanlah atas kami nikmat-Mu, dan lapangkanlah (rezeki/kebaikan) atas kami dan atas orang-orang fakir dari kaum Muslimin.”

Anas berkata: dan apabila beliau mulai menyantap makanan, beliau berkata: “Dengan nama Allah pada awalnya dan akhirnya.” Beliau juga senantiasa memuji Allah di antara setiap dua suapan, dan Rasulullah selalu mengingat Allah di antara setiap dua langkah (ketika berjalan). Dan Rasulullah apabila mengangkat tangannya dari makanan (selesai makan), beliau berkata:

“Engkau telah memberi makan, wahai Tuhanku, dan Engkau telah mengenyangkan; bagi-Mu segala puji, maka jadikanlah ia menyenangkan/berkah. Engkau telah memperbanyak (bagiku), wahai Tuhanku, dari yang baik; bagi-Mu segala puji, maka tambahkanlah.”

Penjelasan

Teks ini menampilkan sebuah riwayat yang sangat menarik karena tidak hanya menyampaikan satu kalimat doa, tetapi menggambarkan “ritme dzikir” Nabi dalam aktivitas sehari-hari, terutama ketika makan dan bahkan ketika berjalan. Bagian matan hadis dimulai dari momen ketika makanan “dihidangkan” kepada Nabi. Ini penting, sebab sebelum makan pun Nabi sudah menempatkan dirinya dalam posisi hamba yang menyaksikan nikmat, bukan sekadar orang yang menerima hidangan. Kalimat “Subḥānaka wa biḥamdika” yang diulang berkali-kali mengandung dua unsur besar: tasbih (menyucikan Allah dari segala kekurangan) dan hamd (memuji Allah atas segala kebaikan). Pengulangan ini memberikan efek spiritual bahwa nikmat makan bukan sesuatu yang remeh, melainkan pintu kesadaran untuk mengenali keluasan pemberian Allah. Ungkapan “mā akṡara mā tu‘ṭīnānā” menanamkan rasa takjub bahwa nikmat Allah itu bukan hanya ada, tetapi sangat banyak, terus mengalir, dan sering kali melebihi kemampuan manusia untuk menghitungnya. Dengan demikian, makan dalam perspektif hadis ini adalah untuk memenuhi kebutuhan biologis sekaligus momen kontemplasi tentang kemurahan Tuhan.

Kemudian doa itu beralih kepada nikmat yang sering tidak disadari: “mā a‘ẓama mā tu‘āfīnānā”, yakni betapa besar kesehatan dan keselamatan yang Allah karuniakan. Ini menggeser fokus dari “apa yang dimakan” kepada “kemampuan untuk menikmati makanan” itu sendiri. Banyak orang memiliki makanan tetapi tidak memiliki kesehatan, atau memiliki kesehatan tetapi tidak memiliki kesempatan, sehingga hadis ini mengajarkan cara pandang yang lebih utuh: nikmat itu bukan hanya materi, tetapi juga kondisi tubuh, ketenangan, dan keterjagaan dari penyakit. Setelah itu muncul ungkapan “mā aḥsana mā tublīnā”, yang secara bahasa mengandung makna bahwa apa yang Allah “berikan sebagai keadaan” kepada manusia—bahkan yang tampak seperti ujian—pada hakikatnya mengandung kebaikan, pendidikan ruhani, dan hikmah. Ini membuat doa tersebut tidak berhenti pada syukur saat lapang saja, tetapi juga melatih hati agar tetap melihat keindahan takdir Allah dalam berbagai keadaan.

Doa berikutnya “fa-atmim ‘alainā ni‘mataka” menunjukkan adab seorang hamba yang tidak merasa cukup hanya dengan menerima nikmat, tetapi memohon agar nikmat itu disempurnakan. Kesempurnaan nikmat bisa berarti diberi keberkahan, dijaga dari berubah menjadi sebab lalai, dan diarahkan agar mendekatkan diri kepada Allah, bukan menjauhkan. Lalu permintaan “wa wassi‘ ‘alainā wa ‘alā fuqarā’i al-muslimīn” memberi dimensi sosial yang kuat: Nabi tidak memohon kelapangan hanya untuk dirinya atau keluarganya, tetapi juga mengikutsertakan orang-orang fakir dari kaum Muslimin. Ini mengajarkan bahwa doa saat makan pun bisa menjadi sarana membangun empati sosial, mengingat mereka yang kekurangan, dan mengaitkan kenikmatan pribadi dengan tanggung jawab moral terhadap umat.

Riwayat ini juga menjelaskan praktik basmalah yang mencakup awal dan akhir makan: “Bismillāhi fī awwalihi wa ākhirihi.” Secara makna, ini menanamkan bahwa aktivitas makan seharusnya dimulai dengan penyandaran kepada Allah dan ditutup dengan kesadaran yang sama, sehingga seluruh prosesnya berada dalam bingkai ibadah. Bahkan disebutkan bahwa Nabi memuji Allah di antara setiap dua suapan, yang menggambarkan tingkat kehadiran hati yang sangat tinggi. Banyak orang berdoa sebelum makan dan sesudah makan, tetapi hadis ini memberi gambaran lebih rinci: Nabi menjaga dzikir “di sela-sela” aktivitas, sehingga tidak ada jeda kosong yang benar-benar terlepas dari ingatan kepada Allah. Ini diperkuat lagi dengan kalimat bahwa beliau “mengingat Allah di antara setiap dua langkah”, yang secara spiritual menampilkan Nabi sebagai sosok yang seluruh hidupnya adalah dzikir berjalan, bukan dzikir sesekali.

Penutup riwayat tentang doa setelah selesai makan juga menarik, karena redaksinya terasa sangat intim dan penuh pengakuan ketergantungan kepada Allah. Kalimat “Aṭ‘amta rabbī wa asyba‘ta” menegaskan bahwa yang memberi makan dan yang mengenyangkan bukan sekadar sebab lahiriah seperti makanan, tangan yang memasak, atau usaha manusia, tetapi pada akhirnya Allah-lah yang menciptakan rasa kenyang dan manfaat makanan. Lalu “laka al-ḥamdu fa-hannih” mengandung permohonan agar nikmat itu menjadi menyenangkan/berkah” dan tidak berubah menjadi sesuatu yang membahayakan atau menimbulkan dampak buruk. Ungkapan berikutnya “akṡarta rabbī mina aṭ-ṭayyibi” mengakui bahwa Allah telah melimpahkan yang baik-baik, dan doa “fa-zid” menunjukkan adab meminta tambahan bukan dengan rakus, melainkan dengan pujian dan penghambaan, seakan-akan tambahan itu diminta agar semakin banyak kesempatan bersyukur dan berbuat baik. Keseluruhan teks ini pada akhirnya mengajarkan bahwa makan, berjalan, dan aktivitas rutin sekalipun bisa diangkat menjadi ibadah tinggi apabila hati selalu hadir bersama Allah, lidah terbiasa memuji-Nya, dan doa tidak hanya berorientasi pribadi, tetapi juga membawa kepedulian terhadap sesama.

 


Post a Comment

0 Comments